No Comments

Di NU Tidak Ada Gairah yang Menjanjikan dan Tidak Ada Janji yang Menggairahkan

KUDUS, ansorkudus.or.ID – Momentum Hari Raya Idul Fitri, Puluhan kader Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor dan Banser Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus beriringan mengendarai sepeda motor menuju kediaman KH. Ahmad Radjab, Rais Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kaliwungu di Desa Prambatan Lor pada Kamis petang,(27/04/2023).

Setibanya di kediaman KH. Ahmad Radjab, ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kaliwungu, Ali Mas’udi langsung memimpin rekannya menyalami dan mencium tangan sesepuh NU itu.

SILATURAHIM: PAC GP Ansor Kecamatan Kaliwungu bersilaturahim pada momen hari raya Idul Fitri. (Dok. Ansor Kaliwungu/ ansorkudus.or.ID)

Ja’alanallahu wa Iyyakum Minal Aidin wal Faizin. Atas segala salah dan khilaf, kami mohon panjenengan berkenan untuk memberi maaf,” tutur ketua PAC GP Ansor Kaliwungu Ali Mas’udi sembari menggenggam tangan KH. Ahmad Radjab.

KH. Ahmad Radjab lalu mempersilakan para tamunya duduk. Kemudian Yai Radjab (sapaan akrabnya) memulai obrolan kecil sambil menyuguhkan aneka jadah yang tersedia di ruang tamu

Yai Radjab lalu menceritakan kilas balik NU Kaliwungu pada 21 tahun silam, yaitu saat ia pertama kali di pilih menjadi ketua MWC.

“Di NU tidak ada gairah yang menjanjikan, dan tidak ada janji yg menggairahkan. Sehingga pada masa itu rame-rame orang ikut partai, sampai-sampai NU sangat kesulitan mencari calon pemimpin. Akhirnya pada waktu itu, saya yang kebetulan tidak tertarik dengan partai dipilih sebagai ketua MWC NU,” kata Yai Radjab.

Menurutnya, waktu itu ia merasa belum pantas menjadi ketua MWC NU Kaliwungu. Selain karena usianya masih muda (sekitar 38 tahun) dan bukan terlahir dari keluarga priyayi. Ia juga merasa belum memiliki bekal ilmu dan pengalaman yang cukup untuk memimpin pengurus NU.

“Mungkin saya terpilih karena keadaan darurat ya, waktu itu saya harap-harap cemas. Punya harapan untuk memajukan tapi kurang bahan. Sampai sekarang saya pun masih belum pantas menjadi rais syuriyah,” imbuhnya.

Ia menyebut masa transisi merupakan salah satu kendala terbesar bagi kader Ansor dalam melaksanakan tugas.

“Terlebih yang sudah menikah, saat ada tugas ndelalah istri atau anaknya sakit. Ada yang sedang tugas, tapi pikirannya masih di rumah sehingga kurang fokus,” imbuhnya.

Namun, apabila kader memiliki bekal keyakinan yang kuat terhadap ajaran ahlussunah wal jama’ah, semua bisa dijalankan dengan baik.

“NU merupakan satu-satunya organisasi yang mengawal ajaran ahlussunah wal jama’ah. Sejak lahir NU memiliki satu tujuan, yaitu terlaksananya ajaran ahlussunah wal jama’ah. Itu yang menjadi acuan dalam melaksanakan kegiatan dan membimbing masyarakat,” tuturnya.

Yai Radjab berharap kedepannya Ansor menjadi calon-calon pemimpin di NU, sehingga yang memimpin NU benar-benar orang yang tepat. (*)

Penulis : Ahmad Syarif
Editor : Gunawan TB Setiyadi

Berita Terhangat
Tags: ansor, ansorkudus, banser, Jateng, kudus, PC

Berita Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

https://salto.poltekip.ac.id/css/

https://thinkcat.mywhc.ca/menyalaabangku/

https://thinkcat.mywhc.ca/sawercuan/

https://bandungkab.go.id/tests/

https://ebphtb.acehtimurkab.go.id/css/

https://h2h.web.uinjambi.ac.id/