KH Musthofa Bisri bercerita, pernah bertemu seorang teman etnis Tionghoa. Orang itu pelukis. Pernah ada pameran lukisan dan dia menggambar Hadlrotus Syeikh Hasyim Asy’ari juga KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Saya dekati dan tanya dia. Kamu kok gambar orang ini, memang kamu kenal apa bagaimana?” tanya Gus Mus.
Gambarannya, kata Gus Mus, itu bagus sekali dibuat mode batik. Di Pekalongan, meskipun terkenal batiknya tapi belum pernah ada lukisan batik.
“Saya tanya lagi, kamu kenapa kok yang dilukis nggak Pak Harto, nggak Bung Karno, nggak Jokowi, nggak SBY. Yang kamu lukis malah Hadlrotus Syeikh Hasyim Asy’ari sama Gus Dur?”.
Dia menjawab dengan mengagetkan saya. “Begini pak, kalau tidak ada orang ini (lebih konkritnya kalau tidak ada NU), ini yang bikin NU kan orang ini?, ya kan pak?-. Kalau tidak ada NU maka tidak akan ada NKRI,” kata Gus Mus menirukan jawaban seorang Tionghoa itu.
Kemudian Gus Mus mengaku membaca segala macam literatur. Ini ada orang etnis Tionghoa berbicara seperti ini, berdasar apa tidak.
Malahan, kisah Gus Mus, dia mengajak saya untuk membuat pameran untuk meluruskan sejarah. Dia mau menggambar tokoh-tokoh NU yang terdahulu. Seperti Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Abbas Buntet dan kiai sezamannya.
Dia menunjukkan contoh, “Yang diperingati 10 November itu siapa? Siapa yang berperan di sana? Bung Tomo itu kan cuma Allahu Akbar-Allahu Akbar saja untuk menyemangati arek-arek Suroboyo. Arek-arek Suroboyo itu siapa? Itu Ansor … Itu anak-anak santri pondok. Yang mimpin di depan tentara Inggris, Belanda dan Sekutu itu siapa?” tegasnya.
Yang mimpin adalah Kiai Abbas Buntet (menjadi panglima). Tidak membawa apa-apa, hanya dengan __jhuh, jhuh__ (ndamoni). Kemudian saya dapat tulisannya wartawan Arab yang ketika revolusi bergolak, dia memantau ke Indonesia. Ia bernama Sayyid Asad Syihab.
Tulisan (kitabnya) dia itu berbahasa Arab terbitan Kuwait berjudul Al Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Wadli’u Labinati Istiqlali Indonisia (Maha Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari, peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia). Yang sekarang diterjemahkan juga ke dalam bahasa Jawa, Kiai Shodiq Hamzah (Rais Syuriyah NU Semarang). (*)
Sumber : KH. Mustofa Bisri
Penulis : Mohammad Rouf
Editor : Abdul Rochim